PBB Peringatkan Kabut Asap Terburuk di Asia Tenggara, Karhutla Indonesia Picu Krisis Lintas Negara

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia memicu krisis pencemaran udara lintas negara di Asia Tenggara. Organisasi Meteorologi Dunia atau World Meteorological Organization (WMO), badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menangani meteorologi dan iklim, memperingatkan bahwa kawasan ini sedang menghadapi salah satu episode kabut asap lintas batas terburuk dalam beberapa tahun terakhir.

Direktur Kantor Regional WMO untuk Asia dan Pasifik, Ben Churchill, menyebut kebakaran di Indonesia telah menyebarkan asap ke sejumlah negara tetangga, termasuk Singapura dan Malaysia. Kondisi cuaca kering yang berkepanjangan membuat api sulit dipadamkan, sementara arah angin membawa polutan melintasi batas negara.

Situasi tersebut menimbulkan kekhawatiran karena kabut asap bukan sekadar persoalan jarak pandang. Partikel polusi dari kebakaran hutan dan lahan dapat memperburuk kualitas udara, meningkatkan risiko gangguan pernapasan, serta menghambat aktivitas masyarakat di wilayah terdampak.

WMO menilai kondisi El Niño yang kuat menjadi salah satu faktor penting yang memperburuk situasi kebakaran di kawasan Asia Tenggara. Fenomena iklim ini berkaitan dengan kondisi yang lebih panas dan kering di sejumlah wilayah, sehingga vegetasi dan lahan gambut lebih mudah terbakar.

Kebakaran yang berlangsung lama di Sumatra dan Kalimantan menjadi sumber utama asap yang menyelimuti sejumlah kawasan. Lahan gambut memiliki risiko khusus karena api dapat menjalar dan bertahan di bawah permukaan tanah, sehingga proses pemadaman membutuhkan waktu dan penanganan yang lebih kompleks.

Menurut laporan Reuters pada 15 Oktober 2026, data Fire Emissions Watch yang dikembangkan melalui program pemantauan Uni Eropa menunjukkan bahwa emisi kebakaran Indonesia menyumbang hampir separuh total emisi kebakaran global dalam periode tujuh hari yang diamati. Data tersebut menggambarkan besarnya kontribusi kebakaran di Indonesia terhadap pencemaran udara yang sedang terjadi.

WMO memperingatkan kabut asap berpotensi bertahan selama berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, apabila kebakaran terus berlangsung. Perubahan arah angin dan turunnya hujan secara konsisten menjadi faktor penting untuk membantu mengurangi konsentrasi asap di kawasan terdampak.

Dampak karhutla Indonesia telah meluas ke negara tetangga. Singapura dan Malaysia mengalami penurunan kualitas udara akibat asap yang terbawa angin, sementara sejumlah wilayah lain di Asia Tenggara juga menghadapi risiko pencemaran udara lintas batas.

Di Singapura, kondisi udara yang tidak sehat berlangsung selama beberapa hari berturut-turut. Pemerintah setempat memperingatkan bahwa kualitas udara berpotensi memburuk apabila kondisi cuaca dan arah angin belum mendukung penyebaran maupun pengurangan konsentrasi polutan.

Kabut asap juga mengganggu aktivitas masyarakat, terutama kegiatan di luar ruangan. Sejumlah kegiatan olahraga dan aktivitas luar ruangan dibatasi sebagai langkah untuk mengurangi paparan polusi terhadap penduduk.

Kondisi ini kembali menegaskan bahwa penanganan karhutla di Indonesia memiliki konsekuensi regional. Asap yang dihasilkan kebakaran dapat bergerak mengikuti pola angin dan memengaruhi kualitas udara di negara lain, sehingga pencegahan kebakaran membutuhkan koordinasi lintas negara.

Dampak kesehatan menjadi salah satu perhatian utama dalam krisis kabut asap kali ini. Reuters melaporkan bahwa data Kementerian Kesehatan Indonesia mencatat 283.270 kasus gangguan pernapasan yang dikaitkan dengan kebakaran hingga 13 Oktober 2026 di tujuh provinsi terdampak.

Jumlah tersebut meningkat tajam dibandingkan 113.336 kasus yang tercatat pada 9 September 2026. Data ini menunjukkan besarnya beban kesehatan yang muncul bersamaan dengan memburuknya kondisi kebakaran dan pencemaran udara.

Partikel halus dalam asap kebakaran dapat masuk jauh ke saluran pernapasan dan memperburuk kondisi orang yang memiliki penyakit pernapasan maupun gangguan kesehatan tertentu. Anak-anak, lanjut usia, serta orang yang harus bekerja di luar ruangan termasuk kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus.

Untuk mengurangi paparan, masyarakat di wilayah terdampak perlu memantau informasi kualitas udara resmi, mengurangi aktivitas berat di luar ruangan ketika polusi tinggi, serta menggunakan masker yang sesuai untuk menyaring partikel halus jika harus beraktivitas di luar. Keluhan sesak napas atau gejala berat lainnya perlu mendapatkan penanganan medis.

Melihat besarnya dampak kabut asap, WMO mendorong negara-negara ASEAN memperkuat kerja sama dalam menghadapi kebakaran hutan dan lahan. Ben Churchill mengusulkan agar negara anggota menggabungkan atau berbagi sumber daya pemadaman, meningkatkan pertukaran keahlian teknis, serta memperkuat sistem peringatan dini dan prakiraan kabut asap.

Kerja sama tersebut dapat membantu negara-negara di kawasan merespons kebakaran dengan lebih cepat. Peralatan pemadaman, tenaga terlatih, informasi meteorologi, dan data titik panas dapat dimanfaatkan secara lebih terkoordinasi untuk menekan penyebaran api.

Selain penanganan darurat, pencegahan juga menjadi faktor penting. Pengelolaan lahan yang lebih baik, perlindungan ekosistem gambut, pengawasan pembukaan lahan, serta penindakan terhadap pembakaran ilegal diperlukan untuk mengurangi risiko kebakaran berulang.

WMO menilai negara-negara di kawasan perlu memperkuat kesiapsiagaan menghadapi periode kering ekstrem. Tanpa upaya pencegahan yang lebih konsisten, kombinasi cuaca panas, lahan yang mudah terbakar, dan aktivitas manusia dapat kembali memicu krisis kabut asap dengan dampak luas.

Pemerintah Indonesia telah mengerahkan personel untuk memadamkan kebakaran dan mengendalikan penyebaran api. Menurut laporan Reuters, lebih dari 60.000 personel dikerahkan, sementara sekitar 50 pesawat digunakan dalam operasi pemadaman dari udara dan penyemaian awan.

Upaya tersebut dilakukan untuk menjangkau lokasi kebakaran, mengurangi titik api, dan membantu mendatangkan hujan melalui operasi modifikasi cuaca. Namun, kebakaran di lahan gambut dapat bertahan lama sehingga penanganannya membutuhkan pemantauan berkelanjutan, termasuk setelah api di permukaan berhasil dipadamkan.

Pemerintah juga menghadapi tekanan untuk meningkatkan pengawasan terhadap perusahaan dan pihak yang diduga melakukan pembakaran atau melanggar ketentuan pengelolaan lahan. Penegakan hukum diperlukan agar upaya pemadaman tidak hanya menangani dampak, tetapi juga menyasar penyebab kebakaran.

Di tingkat regional, krisis ini meningkatkan desakan agar Indonesia dan negara-negara tetangga memperkuat koordinasi. Penanganan yang efektif membutuhkan perpaduan antara pemadaman, penegakan hukum, pencegahan, dan pertukaran informasi.

Kabut Asap Berpotensi Bertahan hingga Musim Hujan

Berakhirnya krisis kabut asap sangat bergantung pada perkembangan cuaca dan kemampuan petugas mengendalikan kebakaran. Reuters melaporkan bahwa musim kering tahun ini berlangsung lebih panjang dari biasanya, sementara hujan yang diharapkan membantu pemadaman diperkirakan datang lebih lambat, yakni pada November.

Dampak El Niño juga diperkirakan masih terasa hingga awal 2027. Meski demikian, waktu pemulihan kualitas udara di setiap wilayah akan bergantung pada intensitas hujan, lokasi kebakaran, kondisi lahan, dan arah angin.

Peringatan WMO menjadi pengingat bahwa karhutla bukan hanya persoalan lingkungan di dalam negeri, melainkan ancaman bersama bagi kesehatan masyarakat dan kualitas udara kawasan Asia Tenggara. Penanganan cepat terhadap kebakaran yang sedang berlangsung harus disertai upaya jangka panjang untuk mencegah kejadian serupa.

Tanpa hujan yang memadai dan pengendalian sumber kebakaran secara efektif, masyarakat di Indonesia maupun negara tetangga masih berisiko menghadapi kabut asap dalam beberapa pekan mendatang. Kerja sama regional dan pencegahan yang lebih kuat menjadi kunci untuk mengurangi dampak krisis ini.